Garuda Indonesia dan Malaysia Airlines tapaki jalan berbeda dalam atasi 'turbulensi' usai pandemi

Shukor, pengamat aviasi, mengatakan akar masalah ini bisa dilacak ke vendor eksternal MAB. Menurut dia, MAB perlu melakukan perubahan total pada layanan-layanan yang dialihdayakan.

Aspek hiburan di atas pesawat pada rute domestik, misalnya. Menurut Fashran Fauzi, pegawai perusahaan minyak dan gas yang terbang dari Kuala Lumpur ke Kuala Terengganu tiga kali sebulan, aspek tersebut sungguh “mengecewakan sekali”.

“Tidak ada bedanya dengan maskapai berbiaya rendah. Dari segi makanan untuk kelas ekonomi, juga tidak memberikan pengalaman terbang yang lebih baik,” kata lelaki 38 tahun ini kepada CNA.

Izham, selaku direktur MAG dan juga MAB, mengatakan maskapainya telah memprioritaskan peningkatan pada 10 aspek kunci pengalaman pelanggan, mulai dari proses check-in sampai layanan makanan dan minuman di dalam pesawat.

Pengamat penerbangan Sobie mengatakan, MAB telah mencatat staf-staf mereka yang berkinerja buruk. Shukor menambahkan, MAB seharusnya mampu lebih ramping lagi.

“Malaysia Airlines masih kelebihan pegawai walau telah mengurangi jumlah armadanya karena COVID-19. Artinya, rasio pekerja per pesawat juga meningkat, yang akan berdampak pada laba,” kata Shukor.

Namun, memecat “pegawai yang tidak produktif” adalah langkah “yang sensitif secara politis”, imbuh Shukor. “Di masa lalu, pemerintah saat itu enggan memecat pegawai dari perusahaan pemerintah, seperti Malaysia Airlines, karena takut mencederai jumlah pemilih pada pemilu.”

AWAN MENDUNG MASIH MENGGANTUNG

Di luar berbagai kebijakan internal yang diambil, para pengamat mewanti-wanti akan adanya berbagai tantangan yang menanti maskapai di kawasan dalam beberapa tahun ke depan.

Salah satunya, Sobie mencontohkan, biaya-biaya akan muncul dalam bentuk pembayaran sewa pesawat yang lebih mahal setelah sebelumnya MAB menangguhkan sebagian kewajiban bayar sebagai bagian dari restrukturisasi utang. “Ada masalah-masalah seperti inflasi dan kuatnya dolar AS yang akan memicu peningkatan biaya.” 

Maskapai nasional Malaysia ini juga menghadapi persaingan yang kian sengit, termasuk dari dua pendatang baru yaitu SKS Airways dan MYAirline, serta harus berjibaku dengan ambisi ekspansi.

Sobie berkata, rencana pemerintah Malaysia mengembangkan dan membuka kembali Bandara Subang di pinggiran Kuala Lumpur untuk menampung jet berbadan ramping menciptakan lebih banyak persaingan bagi MAB. Akhirnya, MAB terpaksa harus membagi dua operasional mereka di Bandara Internasional KL.  

“Kita akan melihat lagi tekanan untuk membuat harga tiket kembali turun, dan akan ada tiket-tiket murah lagi di Malaysia,” kata dia.

Tapi Izham dan Irfan dari Garuda mengaku tidak ambil pusing dalam persaingan dengan maskapai-maskapai berbiaya murah. Keduanya mengatakan, fokus mereka adalah merengkuh pasar premium.

Mereka ingin memasuki pasar yang telah diduduki oleh Singapore Airlines dari negara tetangga. Menurut Sobie, SIA bukanlah rival yang sepadan.

Pakar penerbangan ini mengatakan, setiap maskapai memiliki posisi yang berbeda di pasar, baik Garuda maupun MAB seharusnya sadar diri bahwa mereka bukanlah saingan SIA.

Dia mengatakan bahwa SIA adalah maskapai yang “seluruhnya internasional”. Sementara maskapai nasional Indonesia dan Malaysia adalah “pemain regional yang lebih kecil” yang telah memarkirkan hampir seluruh pesawat rute operasional jarak jauh mereka dan melayani pasar domestik.

Article source: https://airlines.einnews.com/article/641890744/uMPnQ5CC7vZBlvaL?ref=rss&ecode=vaZAu9rk30b8KC5H

Leave a Reply